Featured Post

Alkisah

Gambar
Kisah nyata Yuli, 29 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak 3 dan 5 tahun. Suaminya, Herman, 36 tahun, adalah karyawan dari salah satu perusahaan swasta besar di Bandung. Perawakan Yuli sebetulnya biasa saja seperti kebanyakan. Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangat terawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang, sesuai dengan pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang bulat. Kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis. Dengan 2 anak yang sedang lucu-lucunya, ditambah dengan posisi Herman yang cukup tinggi di perusahaannya, membuat mereka menjadi keluarga yang cukup di hormati di lingkungan kompleks mereka tinggal. Yuli pada dasarnya adalah istri yang sangat setia kepada suaminya. Tidak pernah ada niat berkhianat terhadap Herman dalam hati Yuli karena dia sangat mencintai suaminya. Tapi ada satu peristiwa yang menjadi awal berubahnya cara berpikir Yuli tentang cinta.. Suatu siang, Yuli sedang mengasuh anaknya di depan ru...

Bersama tante


 Cerita dewasa sedarah dengan tanteku ini bermula

saat aku masih duduk dikelas 3 smu. Oh ya

Namaku Wawan, umurku sekarang 26 tahun. Ada

sebuah Cerita Dewasa Seks yang sampai saaat ini

masih saja terus kukenang dan selalu kuingat. yaitu

sebuah kejadian cerita dewasa yang masih terus

kuingat sampai saat ini. Saat sma aQu dititipkan

kepada seorang tanteku. Tanteku ini cantik dan

tubuhnya mulus aduhai bikin semua pria yang liat

pasti pengen segera berhubungan tubuh

dengannya. Oke deh langsung aja pada inti cerita

kali ini. Yuk kita simak aja gimana sih adegan seks

sedarah yang saya lakukan dengan tanteku ini ?

cerita dewasa,cerita panas,koleksi ribuan cerita

dewasa dan cerita sedarah terlengkap

Tanteku namanya Yuni, dia ini seorang "Single

parent" dengan tiga orang anak; dua perempuan

dan satu laki-laki. Suaminya sudah meninggal

karena kecelakaan mobil. Suaminya ini memang

seorang pembalap lokal yang tidak terkenal

namanya. Dengan tiga orang anak dan umurnya

yang sudah 37 tahun, tanteku ini masih saja

kelihatan seksi. Tubuhnya terawat, karena dengan

kondisi keuangannya yang mapan, tanteku secara

teratur senam. Hasilnya, walaupun dengan tiga

orang anak,

tubuhnya tetap terawat dengan baik. Pantatnya

besar dengan pinggul yang juga besar tapi pahanya selain putih dan mulus juga singset tanpa ada

tumpukan lemak sedikitpun. Payudaranya lumayan besar, entah kira-kira berapa ukurannya akupun tidak

tahu tapi yang jelas masih sekal tidak kendor layaknya seorang Ibu yang sudah melahirkan tiga orang

anak.

Kejadiannya berawal pada saat yang tidak diduga sama sekali. Saat itu di rumah sedang tidak ada orang

hanya ada tanteku yang sedang asyik memasak untuk hidangan makan siang, kebetulan hari itu jadwal

mengajar tanteku hanya satu mata kuliah saja. Sepulang sekolah, aku menemukan tanteku didapur

sedang asyik memasak. Dengan langkah gontai karena kecapekan, aku langsung menghampiri meja

makan.

"Tante Yun, belum siap yah makanannya?" tanyaku kelaparan.

"Belum Wan, sabar yah. Ini lo si Suti (pembantu tanteku) pulang tadi pagi, jadinya ya gini nih repot sendiri"

keluh tanteku

Di dahinya terlihat cucuran keringat, belum lagi

tangannya yang belepotan dengan berbagai macam

bumbu yang sedang diraciknya. Kelihatan sekali kalau

tanteku tidak pernah kerja "Sekeras" ini. Walaupun

begitu, entah kenapa terlihat sekali wajah tanteku

semakin cantik. Saat itu dia hanya menggunakan

daster pendek yang sebenarnya tidak ketat tapi karena

bentuk pantat dan pinggulnya yang besar, daster itu

jadi kelihatan agak ketat dan memetakan garis dari

celana dalamnya kalau dia sedang membungkukkan

badannya. "Ah, seksi sekali" pikirku kotor.

"Wawan bantuin ya Tante?" tawarku.

"Boleh Wan, sini!" ternyata tanteku tidak keberatan.

Tidak ada angin tidak ada hujan, belum sampai aku

mendekat, entah karena apa tiba-tiba kran air di

cucian piring copot dari pangkalnya. Otomatis air yang

langsung dari tandon air yang penuh menyembur

dengan derasnya mengenai tanteku yang kebetulan

ada didepannya.

"Aduh Wan, tolong.., gimana ini?" tanteku dengan

paniknya berusaha menutupi saluran air yang

menyembur dengan tangannya.

Karena tubuh tanteku tidak terlalu tinggi, untuk

mencapai saluran itu dia harus sedikit membungkuk.

Terlihat sekali dasternya yang sudah basah kuyup itu sekali lagi memetakan pantatnya yang besar. Garis

celana dalamnya kini terlihat lebih jelas.

Dengan tergesa-gesa, tanpa pikir-pikir lagi aku segera mendekat dan membantunya menutup saluran air

itu dengan tanganku juga. Tanpa aku sadari ternyata posisi tubuhku saat itu seperti memeluk tubuhnya dari

belakang. Bisa di bayangkan, tanpa sengaja juga kontolku mengenai belahan pantatnya yang sekal.

Keadaan ini bertahan beberapa lama. Hingga menimbulkan sesuatu yang kotor dipikiranku.

"Aduh Wan gimana ini?" tanya tanteku tanpa bisa bergerak.

"Duh gimana ya Tante, aku juga bingung." kataku mengulur waktu.

Saat itu, karena gesekan-gesekan yang berlebihan di kontolku, aku jadi tidak bisa menahan gairah untuk

merasakan tubuhnya. Pelan-pelan aku melepas satu tanganku dari saluran air itu, pura-pura meraba-raba

disekitar cucian piring, mencari sesuatu untuk menutup saluran air itu sementara. Tanpa

sepengetahuannya aku justru melepas celanaku berikut juga celana dalamku. Memang agak susah tapi

akhirnya aku berhasil dan dengan tetap pada posisi semula kini bagian bawahku sudah tidak tertutup apa-

apa lagi.

"Wah, nggak ada yang bisa buat nutup Tante. Sebentar Wawan carikan dulu yah"

Kini niatku sudah tidak bisa ditahan lagi, pelan-pelan aku melepas peganganku di saluran air.

"Pegang dulu Tante" kataku sedikit terengah menahan gairah.

"Yah, gih sana cepetan, Tante sudah pegal nih" sungut tanteku.

Kemudian tanpa pikir panjang, secepat kilat aku menyingkap dasternya, kemudian secepat kilat juga

berusaha untuk melorotkan celana dalamnya yang entah warnanya apa, karena sudah basah kuyup oleh

air, warna aslinya jadi tersamar.

"Ehh.. apa-apan ini Wan, jangan gitu dong!?" tanpa sadar tanteku melepas pegangannya disaluran air

untuk menahan tanganku yang masih berusaha melepaskan celana dalamnya. Air menyembur lagi.

"Auhh.. ohh" suara tanteku jadi tidak jelas karena mulutnya kemasukan air. Tanpa sadar juga tanteku

berusaha untuk menutup saluran air dengan tangannya lagi, otomatis tanganku sudah tidak ada yang

menahan lagi.

"Kesempatan" pikirku, dengan satu sentakan celana dalam tanteku melorot sampai diujung kakinya.

"Auwch.. duh Wan jangan, aku ini tantemu, jangann.." Mohon tanteku.

Kepalang tanggung, aku langsung jongkok. Aku lalu menyibak pantatnya yang besar dan mencari liang

senggamanya. Kudekatkan kepalaku, kujulurkan lidahku untuk mencapai vaginanya.

"Auwchh.. Wan.. ahh.." jilatan pertamaku ternyata membuatnya bergetar tanpa bisa beranjak dari tempat

semula, kalau bergerak air pasti akan menyembur lagi.

Lidahku semakin leluasa merasakan aroma dari vaginanya, semakin kedalam membuat tanteku bergetar

hebat. Entah kenapa sudah tidak ada lagi bahasa tubuhnya yang menunjukkan penolakan, yang ada

kepalanya semakin menggeleng-geleng tidak keruan. Kecari klitorisnya, memang agak sulit, setelah dapat

kuhisap habis, dua jariku juga ikut menusuk liang vaginanya. Tidak terkira jumlah lendir yang keluar, tak

lama kemudian, terasa pantatnya bergetar hebat.

"Ahh..hh Wann.. ahh aouhh.." dengan erangan keras, rupanya tanteku sudah mencapai orgasme. Tubuhnya

langsung lunglai tapi tanpa melepas pengangannya dari saluran air.

"Aduh aku belum apa-apa" pikirku.

Langsung aku berdiri, kusiapkan senjataku yang sudah mengacung dengan keras. Dengan dua tanganku

aku coba menyibakkan kedua belahan pantatnya sambil kudekatkan kontolku kevaginanya. Kudorongkan

sedikit demi sedikit. Begitu sudah betul-betul tepat dimulut liang kenikmatannya, tanpa ba-bi-bu langsung

kulesakkan dengan kasar.

"Ahh sakit Wan.. pelan.. auh" kepala tanteku langsung melonjak keatas, tanpa sengaja pegangannya di

saluran air terlepas. Air menyembur dengan deras. Kepalang basah, begitu mungkin pikir tanteku karena

selanjutnya dia hanya berpegangan dipinggiran cucian piring. Sudah tidak ada penolakan pikirku.

Kudiamkan sebentar kontolku yang sudah masuk hingga pangkalnya didalam vagina tanteku, ku nikmati

benar-benar bagaimana ternyata vagina yang sudah mengeluarkan tiga orang manusia ini masih saja

nikmat menggigit. Sensasi yang sangat luar biasa sekali. Pelan-pelan kutarik, kemudian kudorong lagi.

"Oohh.. Wan enak, terus sayang..yang cepat aouhh.. ahh.. terus sayang" pantatnya bergoyang melawan

arah dari kocokanku.

"Nah gitu Wan, ouhh.. ya gitu teruuss.." Pinta tanteku.

Aku terus mengocokkan kontolku dengan cepat. Sebentar kemudian tubuhnya mulai bergetar hebat.

"Yang cepat Wan, Tante sudah mau keluar lagi.. ouhh.. terus" kepalanya semakin menggeleng-geleng tidak

karuan.

"Cepatt.. cepatt truss.. ouchh.. Tante kelluaarr.. aghh" Orgasmenya telah sampai dibarengi dengan

kepalanya yang melonjak naik, tangannya mencengkeram pinggiran cucian piring dengan erat.

"Cabut dulu Wan.. Tante linuu.." pinta tanteku, karena merasakan aku yang masih mengocoknya dari

belakang.

"Akan wawan cabut, tapi janji nanti diteruskan ya Tante?" kataku.

"Iya, tapi sekarang dari depan aja yah" janji tanteku.

Tubuhnya kemudian berbalik. Wajahnya sudah awut-awutan dan basah kuyup. Kemudian dia duduk diatas

cucian piring sambil menghadapku. Aku mendekat, langsung kucari bibirnya dan kemudian kami

berpagutan lama. Sambil kami berciuman, satu tangannya membimbing kontolku kearah liang vaginanya.

Tanpa disuruh dua kali kudorongkan pantatku dibarengi dengan masuknya juga kontolku.

"Ahh.. oohh.." erang tanteku, ciuman kami terlepas.

"Kocokkan yang cepatt wann.." pinta tanteku sambil pahanya semakin dilebarkan.

"Begini Tante.." Kataku sambil mengocokkan kontolku dengan cepat.

"Gila kamu Wann.. kuaatt sekalii kamuu.." sambil satu tangannya menarik satu tanganku, kemudian

ditaruhnya di bagian atas vaginanya. Aku tahu mau maksudnya.

"Yahh yang ituu.. teruss Wann.. ohh enakk.. Wan teeruss.." rintih tanteku ketika sambil kontolku mengocok

vaginanya tanganku juga memelintir klitorisnya.

"Ohh Wan, Tante hampir sampai.." tubuhnya mulai bergetar agak keras.

"Aku juga hampir sampai Tante.. ohh punya Tante eenakk.." aku mulai tidak bisa mengendalikan lagi,

orgasmeku tinggal sebentar lagi.

"Dikeluarin dimana Tante?" tanyaku minta ijin.

"Udah nggak usah mikirin itu, ayoo teruss.. didalemm jugaa nggakk Papa"

"Ayoo..Tante udah diujung nihh wann.."

"Ouhh.. enakk.. cepatt Wann.. yangg cepatt" rintih tanteku.

"Goyang Tante, kita barengan ajaa.. oghh" orgasmeku sudah diujung.

Semakin kupercepat kocokanku, tanteku juga mengimbangi dengan menggoyang pantatnya. Sambil

berpegangan pada belakang pantatnya, kukeluarkan air maniku.

"Aku keluarr tantee.. aughh.." sambil kubenamkan dalam-dalam.

"Tante juga Wann.. oughh akhh.. gilaa.. uenakknya.." erangnya sambil jemarinya mencengkeram bahuku.

Akhirnya kami berdua terkulai lemas. Kudiamkan dulu kontolku yang masih ada didalam vaginanya. Kulirik

ada sedikit lelehan air mani yang keluar dari vaginanya. Seperti tersadar dari dosa, tanteku mendorong

badanku.

"Kamu nakal Wan, berani sekali kamu berbuat ini" sungut tanteku.

"Tapi Tante juga menikmatinya kan?" belaku.

Tanpa berkata apa-apa, dia kemudian turun, meraih celana dalamnya kemudian berlalu kekamar mandi.

Aku berusaha mengejarnya tapi dia sudah lebih dulu masuk kamar mandi kemudian menguncinya.

"Tante air di tandon tadi sudah habis loh" candaku dari luar kamar mandi tapi tidak ada balasan dari dalam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alkisah

Aksi kocak ibu dan ayah

Pantasi