
Part 4
“Makasih mbak,” kata Rif’ah. Malam harinya, Ummu Nida terkejut luar biasa mendengar penuturan Rif’ah mengenai hubungannya dengan Faizah, namun Rif’ah tidak menceritakan kalau dia juga menikmati hubungan sesama jenis tersebut. Wajah Ummu Nida merah padam mendengar penuturan Rif’ah yang menuturkan sambil terisak.
“Rif’ah menyesal mbak, tapi Faizah terus mengancam dan menekan. Rif’ah tidak berani.”
“Kalau begitu Faizah harus keluar dari kost akhwat tersebut, dia berbahaya buat akhwat lainnya. Baru sabuk hijau saja sudah banyak tingkah,” ujar Ummu Nida tampak geram.
Rif’ah memang mendengar kalau Ummu Nida sebelum menjadi akhwat adalah mantan atlit karateka propinsi dan sudah sampai sabuk hitam, tapi dia tidak mengerti masalah sabuksabuk tersebut sehingga dia tidak tahu maksud ucapan Ummu Nida.
“Sekarang dik Rif’ah istirahat dulu aja, nggak apa-apa. Biar mbak yang bereskan Faizah itu,” desis Ummu Nida dengan nada perintah.
Mendengar ucapan Ummu Nida itu, Rif’ah pun segera pamit ke kamar yang terletak di sebelah kamar Ummu Nida dan suaminya.Di kamar tempat dia berbaring itu, Rif’ah gelisah. Ada sedikit rasa penyesalan menceritakan masalahnya kepada Ummu Nida, ia khawatir hal itu akan menjadi konsumsi publik di kalangan akhwat. Namun kemudian penyesalan itu ditepisnya, karena dia yakin Ummu Nida akan bertindak yang terbaik untuknya. Apalagi setelah Rif’ah masuk ke kamar, dia mendengar pembicaraan Ummu Nida dan suaminya berkisar masalah Faizah bukan dirinya. Namun kelelahan yang melandanya membuat Rif’ah tak sempat berlama-lama mendengar pembicaraan itu karena kemudian dia tertidur pulas.
Tengah malam Rif’ah terbangun ketika dia mendengar suara canda dan ketawa-ketiwi dari kamar sebelahnya yang tak lain adalah kamar Ummu Nida dan suaminya. Rif’ah memahami sehingga diapun kembali berusaha tertidur, namun ternyata suara-suara itu kemudian mengganggunya sehingga membuatnya sulit tertidur apalagi setelah terdengar suara-suara aneh dari kamar tersebut di sela-sela canda suami istri tersebut. Suara tersebut membuat Rif’ah gelisah dan benaknya tanpa sadar membayangkan apa yang tengah terjadi di kamar sebelah antara Ummu Nida dan suaminya. Bayangan tersebut terhenti ketika kemudian Rif’ah merasa ingin buang air kecil.
Dengan hati-hati dan pelan, Rif’ah keluar kamar menuju ke WC. Suasana ruangan di luar kamar remang-remang karena lampu di ruangan tersebut telah dimatikan dan Rif’ah tidak tahu tempat saklar lampu. Namun cahaya lampu dapur yang dibiarkan menyala membantu Rif’ah berhasil sampai ke WC. Setelah menuntaskan hajatnya, Rif’ah segera kembali ke kamarnya. Ketika Rif’ah hendak membuka pintu kamar tempat dia tidur, terdengar kembali suara-suara dari kamar Ummu Nida. Suara ketawa, dengusan dan suara-suara aneh membuat Rif’ah berdebar-debar.
Tanpa sadar benak Rif’ah teringat film porno yang ditontonnya di warnet beberapa waktu yang lalu. Dada akhwat ini berdegup kencang ketika kemudian matanya melihat seberkas sinar keluar dari lubang kunci pintu kamar Ummu Nida. Rif’ah mengurungkan niatnya masuk ke kamar, akhwat ini justru menempelkan matanya ke lubang kunci tersebut dan sedetik kemudian bola mata Rif’ah membelalak lebar melihat pemandangan yang dilihatnya melalui lubang kunci tersebut.
Tubuh gadis cantik ini gemetar
Komentar
Posting Komentar